PPG

Filosofi Ki Hajar Dewantara dalam PPG Prajabatan: Penjelasan Lengkap

TaufiqOleh Taufiq
8 min baca
Penerapan Filosofi Ki Hajar Dewantara dalam PPG Prajabatan ASN Institute

Kalau kamu lagi nyari jawaban soal “kenapa sih filosofi Ki Hajar Dewantara wajib dipelajari di PPG Prajabatan?” — you’re in the right place. Filosofi Ki Hajar Dewantara (KHD) adalah fondasi pemikiran pendidikan nasional Indonesia, dan dipelajari di PPG Prajabatan lewat mata kuliah Filosofi Pendidikan Indonesia. Mata kuliah ini nyangkut di semester awal karena calon guru perlu mindset dulu sebelum terjun ke metode mengajar. Nggak cuma teori kering — filosofi KHD ini nyatanya jadi pondasi Kurikulum Merdeka, Profil Pelajar Pancasila, dan cara guru berinteraksi dengan murid sehari-hari. Sebagai referensi awal, kamu bisa menyimak panduan dasar di Program PPG dan Sertifikasi Pendidik untuk memahami gambaran seleksi secara menyeluruh.

Oke, sekarang kita bedah satu per satu. Siapin kopi, kita ngobrol panjang.

Mengapa Filosofi KHD Menjadi Mata Kuliah di PPG Prajabatan?

Pertanyaan ini paling sering muncul di obrolan antar mahasiswa PPG. “Emang relevan banget ya belajar filosofi orang zaman dulu?” Jawabannya: sangat relevan, karena hampir semua kebijakan pendidikan modern Indonesia berakar dari pemikiran KHD. Hal ini juga berkaitan erat dengan pembahasan Gaji dan Tunjangan Guru Setelah Lulus PPG Prajabatan 2026 yang menjadi pertimbangan penting bagi calon pelamar.

Menurut prosiding seminar nasional UNNES (proceeding.unnes.ac.id), mata kuliah Filosofi Pendidikan Indonesia di PPG Prajabatan terdiri dari lima topik inti: (1) perjalanan pendidikan nasional, (2) dasar-dasar pendidikan Ki Hadjar Dewantara, (3) identitas manusia Indonesia, (4) Pancasila sebagai fondasi pendidikan Indonesia, dan (5) topik kelima yang belum terverifikasi dari sumber resmi — kalau kamu butuh pastinya, cek modul resmi PPG di portal LMS masing-masing.

Artinya, hampir separuh mata kuliah ini langsung membahas pemikiran KHD. Nggak mungkin kamu lulus PPG tanpa paham konsep dasarnya.

Posisi mata kuliah Filosofi Pendidikan Indonesia dalam kurikulum PPG

MK ini masuk kategori mata kuliah keahlian pedagogik — bukan sekadar pengetahuan umum, tapi fondasi yang menentukan cara kamu nanti ngajar. Dalam konteks Kurikulum Merdeka, filosofi KHD jadi acuan utama bagaimana guru posisinya: bukan penguasa kelas, tapi fasilitator yang menuntun murid sesuai kodrat masing-masing.

Jadi kalau kamu ngerasa “kok teorinya berat banget,” sabar. Pemahaman filosofis ini bakal jadi filter mental kamu setiap kali harus mengambil keputusan pedagogis di kelas nanti.

Inti Pemikiran Ki Hajar Dewantara

Sekarang masuk ke jantung pembahasannya. Pemikiran KHD itu luas, tapi ada tiga pilar utama yang wajib kamu kuasai untuk PPG — dan untuk karier mengajar kamu ke depannya. Untuk memastikan keabsahan data formasi dan regulasi terbaru, kamu dapat memantau rilis resmi melalui Portal Resmi PPG Kemendikbudristek.

Pendidikan yang Memerdekakan dan Memanusiakan Manusia

Ini konsep paling sentral dari KHD. Menurut Unisbank (unisbank.ac.id), KHD memandang pendidikan sebagai proses memanusiakan manusia dan memerdekakan manusia segenap aspeknya — aspek moral, intelektual, fisik, dan sosial.

Coba telan pelan-pelan: “memanusiakan manusia.” Artinya pendidikan itu bukan soal nyetor materi atau nilai ujian tinggi-tinggi. Pendidikan yang benar bikin manusia jadi manusia seutuhnya — yang punya nurani, punya pikiran kritis, punya empati, dan mampu berdiri mandiri.

Kalau diibaratkan, guru yang paham filosofi ini nggak cuma “ngisi ember” dengan ilmu. Dia menanam benih yang nantinya tumbuh sesuai potensi masing-masing murid. Beda banget sama pendidikan model lama yang seragam: semua murid harus bisa hal yang sama, cara yang sama, di waktu yang sama.

Trilogi Among: Ing Ngarsa Sung Tulada, Ing Madya Mangun Karsa, Tut Wuri Handayani

Kalau kamu pernah lihat logo Kemendikbud, tulisan “Tut Wuri Handayani” ada di situ. Tapi sebenernya KHD punya tiga semboyan utama — bukan cuma satu. Dan masing-masing punya peran khusus (guruberdaya.org; journal.aspirasi.or.id):

  1. Ing Ngarsa Sung Tulada — Di depan, memberi teladan. Guru harus jadi contoh nyata, bukan cuma omongan. Murid itu ninjain banget; kalau guru bilang “jujur itu penting” tapi sendiri suka bohong, ya percuma.

  2. Ing Madya Mangun Karsa — Di tengah, membangun kemauan dan karsa. Guru nggak berdiri di atas kelas mengatur dari jauh. Guru masuk ke tengah murid, ngobrol bareng, memotivasi, dan membangun semangat belajar dari dalam diri murid itu sendiri.

  • Tut Wuri Handayani — Dari belakang, memberi dorongan dengan penuh tanggung jawab dan kasih. Guru mundur pelan-pelan, memberi ruang murid bertumbuh, tapi tetap ada di belakang sebagai sandaran. Filosofi ini yang bikin logo Kemendikbud sekarang pakai semboyan ini.

  • Tiga semboyan ini saling melengkapi. Guru nggak cuma satu “mode” terus — ada saatnya jadi teladan, ada saatnya jadi motivator, ada saatnya mundur dan kasih ruang.

    Kodrat Alam dan Kodrat Zaman

    Ini konsep yang sering banget muncul di tugas refleksi mahasiswa PPG. KHD berpendapat bahwa pendidik harus menuntun kodrat alam dan kodrat zaman (dokumen modul PPG; literatur konsisten di berbagai jurnal).

    Apa bedanya?

    • Kodrat alam = potensi dasar yang sudah dibawa sejak lahir. Setiap anak punya bakat, minat, dan karakter yang beda-beda. Guru harus mengenal dan menghargai itu.
    • Kodrat zaman = tantangan dan kebutuhan zaman yang terus berubah. Guru nggak bisa ngajar dengan cara 30 tahun lalu. Dunia udah berubah — ada AI, ada media sosial, ada problema sosial baru.

    Jadi guru yang paham filosofi ini nggak akan bilang “anak ini bodoh.” Dia akan bilang “anak ini punya kodrat yang perlu dituntun dengan cara yang tepat di zaman sekarang.” Berpihak pada murid — itu kata kuncinya.

    Implementasi Filosofi KHD dalam Pembelajaran Calon Guru

    Teori seberapa pun bagus tetap zonk kalau nggak dipraktikkan. Nah, ini bagian yang paling sering dilewatkan mahasiswa PPG: gimana nerjemahin filosofi KHD ke kelas nyata?

    Contoh penerapan di kelas (pembelajaran berdiferensiasi, student-centered)

    Di bawah Kurikulum Merdeka, konsep pembelajaran berdiferensiasi itu sangat KHD-friendly. Guru menyajikan materi dengan beberapa jalur: ada yang lewat bacaan, ada yang lewat diskusi, ada yang lewat proyek praktik. Kenapa? Karena setiap murid punya kodrat alam yang beda.

    Contoh konkret: pelajaran IPS tentang perekonomian lokal. Murid yang suka menulis bisa bikin laporan tulisan. Murid yang visual bisa bikin infografis. Murid yang kinestetik bisa observasi langsung ke pasar dan bikin presentasi. Hasilnya sama — paham materi — tapi jalurnya beda sesuai kodrat masing-masing.

    Model student-centered learning juga langsung nyambung dengan trilogi among. Guru posisinya di tengah (Ing Madya Mangun Karsa), murid aktif eksplorasi, guru cuma fasilitasi dan dampingi. Di akhir, guru mundur pelan (Tut Wuri Handayani) dan biarkan murid menunjukkan pemahaman mereka.

    Refleksi filosofi KHD untuk tugas PPG (jurnal refleksi, mulai dari diri)

    Kalau kamu lagi stuck ngerjakan tugas LMS PPG — entah jurnal refleksi, “Mulai dari Diri,” atau eksplorasi konsep — coba deh kembalikan ke pertanyaan sederhana:

    “Dalam situasi belajar/mengajar yang pernah saya alami, di mana saya menerapkan (atau gagal menerapkan) trilogi among KHD?”

    Tulis jujur. Misalnya: “Waktu praktik mengajar, saya cenderung berdiri di depan kelas terus dan ngomong satu arah. Padahal idealnya saya harus masuk ke tengah, ngobrol sama murid, bangun karsa mereka.” Refleksi kayak gini jauh lebih bernilai daripada menyalin definisi KHD dari internet.

    Intinya: mulai dari diri sendiri. Itu juga filosofi KHD — pendidikan dimulai dari kesadaran pendidiknya sendiri untuk terus belajar dan merefleksikan praktiknya.

    Agar persiapanmu lebih matang dan terarah, sangat disarankan untuk mengukur kemampuan sejak dini lewat simulasi CAT di Tryout PPG Online. Selain itu, lengkapi wawasanmu dengan membaca ulasan mendalam mengenai Cara Lulus UKMPPG 2026: Tips, Materi, dan Strategi Belajar Efektif agar strategi belajarmu semakin efektif.

    Pertanyaan Seputar Filosofi Ki Hajar Dewantara dalam PPG Prajabatan: Penjelasan Lengkap

    Tut Wuri Handayani adalah semboyan KHD yang berarti “dari belakang, memberi dorongan dengan penuh tanggung jawab dan kasih.” Guru memberi ruang murid bertumbuh sambil tetap mendampingi. Semboyan ini jadi dasar logo Kemendikbud (guruberdaya.org).

    Bagikan Artikel:
    FacebookX / TwitterLinkedIn
    PERSIAPAN SELEKSI 2026/2027

    Tingkatkan Peluang Kelulusan ASN & Kedinasan Anda

    Ikuti bimbingan belajar komprehensif atau uji kemampuan melalui simulasi tryout CAT berbasis standar BKN di ASN Institute.

    Pilih Program BimbelSimulasi Tryout CAT
    Chat Sekarang