Kalau kamu lagi nyari jawaban soal “kenapa sih filosofi Ki Hajar Dewantara wajib dipelajari di PPG Prajabatan?” — you’re in the right place. Filosofi Ki Hajar Dewantara (KHD) adalah fondasi pemikiran pendidikan nasional Indonesia, dan dipelajari di PPG Prajabatan lewat mata kuliah Filosofi Pendidikan Indonesia. Mata kuliah ini nyangkut di semester awal karena calon guru perlu mindset dulu sebelum terjun ke metode mengajar. Nggak cuma teori kering — filosofi KHD ini nyatanya jadi pondasi Kurikulum Merdeka, Profil Pelajar Pancasila, dan cara guru berinteraksi dengan murid sehari-hari. Sebagai referensi awal, kamu bisa menyimak panduan dasar di Program PPG dan Sertifikasi Pendidik untuk memahami gambaran seleksi secara menyeluruh.
Oke, sekarang kita bedah satu per satu. Siapin kopi, kita ngobrol panjang.
Mengapa Filosofi KHD Menjadi Mata Kuliah di PPG Prajabatan?
Pertanyaan ini paling sering muncul di obrolan antar mahasiswa PPG. “Emang relevan banget ya belajar filosofi orang zaman dulu?” Jawabannya: sangat relevan, karena hampir semua kebijakan pendidikan modern Indonesia berakar dari pemikiran KHD. Hal ini juga berkaitan erat dengan pembahasan Gaji dan Tunjangan Guru Setelah Lulus PPG Prajabatan 2026 yang menjadi pertimbangan penting bagi calon pelamar.
Menurut prosiding seminar nasional UNNES (proceeding.unnes.ac.id), mata kuliah Filosofi Pendidikan Indonesia di PPG Prajabatan terdiri dari lima topik inti: (1) perjalanan pendidikan nasional, (2) dasar-dasar pendidikan Ki Hadjar Dewantara, (3) identitas manusia Indonesia, (4) Pancasila sebagai fondasi pendidikan Indonesia, dan (5) topik kelima yang belum terverifikasi dari sumber resmi — kalau kamu butuh pastinya, cek modul resmi PPG di portal LMS masing-masing.
Artinya, hampir separuh mata kuliah ini langsung membahas pemikiran KHD. Nggak mungkin kamu lulus PPG tanpa paham konsep dasarnya.
Posisi mata kuliah Filosofi Pendidikan Indonesia dalam kurikulum PPG
MK ini masuk kategori mata kuliah keahlian pedagogik — bukan sekadar pengetahuan umum, tapi fondasi yang menentukan cara kamu nanti ngajar. Dalam konteks Kurikulum Merdeka, filosofi KHD jadi acuan utama bagaimana guru posisinya: bukan penguasa kelas, tapi fasilitator yang menuntun murid sesuai kodrat masing-masing.

