Setiap tahun, ratusan ribu orang berebut kursi di sekolah kedinasan. Kuliah gratis, langsung jadi ASN, dan karier yang jelas memang terdengar sangat menarik.
Tapi tidak sedikit yang akhirnya menyesal karena memilih tanpa benar-benar memahami sekolah kedinsan seperti apa yang mereka masuki.
Faktanya, cara memilih sekolah kedinasan yang benar sebenarnya bukan soal mana yang paling bergengsi atau mana yang paling mudah masuk, tapi lebih ke kesesuaian antara diri Anda dan sistem yang akan Anda jalani selama bertahun-tahun.
Nah, artikel ini akan memberi Anda tips memilih sekolah kedinasan sehingga Anda bisa memiliki bahan pertimbangan sebelum akhirnya mengambil keputusan.
Cara Memilih Sekolah Kedinasan yang Benar

Ada banyak faktor yang perlu Anda pertimbangkan sebelum menentukan pilihan. Mulai dari kemampuan diri sendiri, sistem pendidikan di masing-masing sekolah, hingga konsekuensi jangka panjang setelah lulus. Berikut penjelasan lengkapnya.
1. Ketahui Minat dan Kemampuan
Cara memilih sekolah kedinasan sesuai minat adalah dengan bertanya ke diri Anda: mata pelajaran apa yang paling Anda kuasai?
Apakah Anda nyaman dengan angka dan data? Atau Anda lebih suka hal-hal yang berkaitan dengan pelayanan publik dan pemerintahan? Pertanyaan sederhana ini bisa langsung menyaring banyak pilihan.
PKN STAN dan STIS, misalnya, sangat menuntut kemampuan Matematika dan kemampuan berpikir analitis.
Sementara IPDN lebih condong ke kemampuan kepemimpinan, komunikasi, dan ketahanan fisik. Jika Anda memaksakan diri masuk ke sekolah yang tidak sesuai kemampuan, perjalanan empat tahun ke depan akan terasa sangat berat.
Selain akademik, pertimbangkan juga kesiapan mental Anda. Kehidupan asrama dengan aturan ketat, jauh dari keluarga, dan jadwal yang padat bukan hal yang semua orang siap jalani.
Tidak ada yang salah dengan mengakui bahwa Anda belum siap, lebih baik tahu sekarang daripada ketahuan setelah masuk.
2. Pahami Dulu Sistem Pendidikan Tiap Sekolah
Kesalahan umum yang banyak dilakukan calon peserta adalah menganggap semua sekolah kedinasan itu sama. Padahal, perbedaannya cukup besar, baik dari sisi kurikulum, budaya kampus, maupun cara belajarnya.





