Lowongan CPNS BRIN menjadi sorotan utama bagi ribuan calon aparatur sipil negara (ASN) yang ingin berkarir di bidang riset dan inovasi.
Dengan rencana pembukaan formasi baru pada seleksi CPNS 2026, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menawarkan peluang emas bagi talenta muda yang ingin berkontribusi pada kemajuan ilmu pengetahuan Indonesia.
Melalui kebijakan ini, BRIN berupaya mengejar ketertinggalan rasio peneliti nasional yang masih jauh di belakang negara maju.
Menurut data dari Badan Kepegawaian Negara (BKN), seleksi CPNS 2024 mencatat 3,6 juta pendaftar secara nasional, namun tidak semua instansi mendapat jumlah pelamar yang merata.
BRIN, sebagai lembaga pusat riset pemerintah, justru menjadi salah satu instansi paling sepi peminat.
Fenomena ini membuka mata banyak pihak bahwa karir di dunia penelitian masih kurang populer dibandingkan posisi administratif atau teknis lainnya.
Namun, di balik itu, lowongan CPNS BRIN untuk 2026 diharapkan menjadi magnet baru, terutama bagi lulusan sains dan riset yang siap berkomitmen jangka panjang.
Kepala BRIN, Arif Satria, menekankan urgensi penambahan periset untuk memperkuat ekosistem inovasi nasional.
Saat ini, Indonesia hanya memiliki sekitar 300 peneliti per satu juta penduduk, sementara negara maju seperti Jepang atau Amerika Serikat mencapai 4.000 peneliti per satu juta penduduk.
“Kita harus berjuang ke Kementerian PANRB agar bisa menambah jumlah periset, khususnya untuk bidang-bidang strategis,” ujar Arif dalam Sidang Terbuka Majelis Pengukuhan Profesor Riset BRIN di Jakarta pada 25 November 2025.
Pernyataan ini menjadi landasan kuat bagi rencana formasi CPNS BRIN mendatang.
Lowongan CPNS BRIN: Siapkan Formasi Strategis

Melihat kekurangan SDM riset yang akut, BRIN berencana membuka formasi CPNS 2026 dengan fokus pada bidang-bidang unggulan.
BRIN siapkan formasi strategis untuk CPNS 2026 ini mencakup pemuliaan tanaman, nanoteknologi, genomics, antariksa, sains material, dan teknologi keberlanjutan.
Tak hanya itu, latar belakang ilmu sosial juga akan direkrut untuk mendukung kajian lintas disiplin.
“Seluruh aspek ini penting, tapi yang paling krusial adalah attachment kepada sektor mana, Jadi bisa saja pangan, tapi orang satelit, orang material science” jelas Arif Satria, seperti dikutip dari Antara.






